Sabtu, 06 Oktober 2012

0 Keseimbangan Antara Dakwah dan Kuliah

Bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara dakwah dan kuliah ? agar aktifitas kuliah tetap baik dan kinerja dakwah tetap optimal.

Tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar. Hal ini perlu kita pahami bersama sebagai sebuah kewajiban yang harus dituntaskan dengan predikat memuaskan. Sebagai seorang muslim yang berdedikasi terhadap pendidikan tentu kita perlu menjadikan hal ini sebagai prioritas. Akan tetapi sebagai seorang kader dakwah, menjaga kinerja dakwah agar tetap optimal dan konsisten juga merupakan tuntutan tersendiri, maka perlu juga perencanaan yang baik untuk menyeimbangkan kedua hal ini. Ada hal yang unik dari keluhan yang terjadi diantara kader dakwah masa kini, adalah ketika nilai sedang menurun, maka kambing hitam yang paling mudah untuk di tunjuk adalah banyaknya aktifitas dakwah. Hal ini seakan-akan dakwah lah yang membuat nilai Anda jatuh. Hey Brother open up your eyes, apakah betul dakwah yang membuat nilai turun ? jika Anda percaya hal ini, maka Anda tidak percaya janji Allah akan balasan akan amal yang kita lakukan. atau mungkin Anda sudah cukup mengalami disorientasi dakwah sehingga Anda merasa tidak bermanfaat untuk menjalankan dakwah, justru dakwah membuat Anda terpuruk.

Saya bisa memahami pandangan seseorang tentang hal ini, lalu saya bertanya kembali, apakah Anda bisa menjamin tanpa aktifitas dakwah nilai Anda akan meningkat. Saya pernah menantang hal ini ke salah satu kader saya, dan ternyata hasilnya ia hanya mengalami peningkatan IP sebesar 0,1 saja. Kenaikan yang tidak banyak menurut saya, dan tidak sebanding dengan meninggalkan dakwah.

Hal lain yang sering muncul berlawanan dengan kasus diatas, yakni kader dakwah yang sudah cukup frustasi dengan nilainya sehingga ia berpikir untuk tidak begitu memperdulikan akademiknya dan hanya focus pada aktifitas dakwah. Saya melihat kader dengan pandangan seperti ini masih sepakat dengan motto kader dakwah 1 dekade silam, yakni kader yang IP nya 2,00 adalah mujahid, dan kader yang IP nya 3,50 adalah pengkhianat. sebuah pandangan yang jauh dari relevan untuk di aplikasikan saat ini.

(1) Life is about mindset. Jargon ini tampak sangat nyata dan benar adanya. Jika Anda berpikir bahwa Anda bisa berdakwah secara optimal dengan tetap meraih nilai memuaskan, maka Anda akan menjadikan hal tersebut kenyataan. Ini langkah penting dalam memulai keseimbangan ini, pikirkan lalu tuliskan atau lukiskan keinginan Anda ini dalam secarik kertas, lalu internalisasikan secara mendalam kepada hati dan pikiran Anda. salah satu kisah unik dari salah seorang mantan presiden Amerika Serikat, dimana ia menempelkan gambar white house di langit-langit kamarnya sejak ia berusia belasan tahun. Sehingga setiap pagi ketika bangun tidur ia bisa melihat gambar itu, dan beberapa tahun kemudian ia berhasil menjadi presiden. Saya mencoba hal ini pada semester ke-6 saya di ITB. Saya meniatkan dalam hati bahwa tidak boleh ada lagi nilai B dalam traskrip saya, saya membayangkan hanya nilai A di transkrip saya. Lalu saya tulisakan hal itu di buku catatan, dan saya buat gambar untuk di taruh di background desktop laptop saya. Selama satu semester mindset saya jaga, dan Alhamdulillah di akhir semester, hanya ada 1 nilai B dalam transkrip nilai semester 6 saya, IP 3,9 pun diraih.

(2) Fokus pada apa yang dikerjakan. Perjuangan melawan diri adalah ujian tersendiri bagi seorang manusia. termasuk berjuang untuk tetap fokus pada apa yang dikerjakan. Seringkali tantangan yang sering dihadapi adalah, ketika Anda sedang kuliah, pikiran Anda pada tanggung jawab dakwah kampus, dan ketika sedang rapat terkait dakwah kampus, pikiran Anda justru tentang tugas kuliah. Disinilah terjadi diskoneksi antara tubuh dan jiwa. atau separasi antara pikiran dan otak. Apa akibat jika hal ini dibiarkan ? akibat yang cukup sering ditemui adalah ketidakoptimalan Anda dalam melakukan segala hal. Oleh karena itu Anda bisa memulai dengan menyingkirkan hal-hal yang bisa menggangu fokus Anda. Seperti, ketika kuliah atau belajar, maka mobile phone bisa dinon-aktifkan atau catatan-catatan yang tidak berhubungan dengan kuliah bisa disingkirkan. Menghilangkan hal yang tidak berhubungan dari pandangan merupakan langkah yang snagat membantu. Setelah itu mungkin akan terjadi pergolakan batin pada diri Anda, akan tetapi jika Anda bisa melewati hal ini, maka akan lebih mudah kedepannya untuk manajemen fokus.

(3) Memperhatikan dan mencatat di kelas

Membiasakan diri untuk memperhatikan apa yang dosen ajarkan di kelas serta mencatat hal-hal yang perlu dicatat bisa memudahkan Anda memahami perkuliahan. Kadangkala dengan hanya memperhatikan dosen sudah cukup membuat kita untuk paham akan sebuah mata kuliah. Selain itu dengan mempunyai catatan pribadi terkait kuliah, maka akan lebih memudahkan ketika dibutuhkan untuk belajar, dan kita juga jadi tidak tergantung pada catatan orang lain.

Selain berdampak ada diri, dengan memperhatikan dosen juga berdampak pada citra diri seorang kader dakwah. Dosen akan melihat bahwa ternyata kader dakwah adalah seorang mahasiswa yang rajin dan bisa menjadi teladan dalam hal akademik untuk sekitar. Sesekali bertanya jika ada yang tidak mengerti, terkadang justru dengan bertanya, Anda jadi lebih cepat mengingat suatu hal.

Ketika kita sudah cukup memahami suatu mata kuliah hanya dengan memperhatikan di kelas, maka waktu belajar di rumah untuk ujian akan lebih sedikit, sehingga alokasi waktu yang tadinya untuk belajar, diganti menjadi untuk kegiatan dakwah

(4) Mengalokasikan waktu belajar setiap hari

Alokasikan waktu belajar secara rutin setiap harinya, apakah itu di waktu pagi, siang atau malam. Tepatnya alokasi waktu khusus untuk belajar di waktu luang, belajar disini bukan mengerjakan tugas, akan tetapi betul-betul belajar, membaca atau latihan soal terkait mata kuliah tertentu. Sehingga saat menjelang ujian, Anda tidak perlu menggunakan sistem kebut semalam yang membuat hasil ujian tidak optimal. Bisa dikatakan salah satu inti dari menyeimbangkan akademik dan dakwah adalah pada belajar rutin ini. Memang pada awalnya akan butuh perjuangan agar konsisten. Akan tetapi jika sudah bisa dijadikan kebiasaan, maka manfaatnya akan langsung terasa.

(5) Jangan menunda mengerjakan tugas

Jangan pernah menunda tanggung jawab dakwah atau tugas kuliah, karena menunda sesuatu akan berdampak kepada agenda agenda yang lain. Sebutlah Anda menunda sesuatu satu hari saja, maka tugas yang Anda dapat pada hari esok juga akan ikut tertunda. Poin penting dari kenapa harus mengerjakan sebuah tanggung jawab sesegera mungkin adalah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, tantangan apa yang akan datang besok, dan tugas apa lagi yang akan diberikan kepada Anda besok.

(6) Alokasikan waktu berkegiatan dengan tepat serta memilih tanggung jawab yang sebanding dengan kapasitas diri

Sesuaikan potensi Anda dengan beban yang Anda emban, jangan sampai berlebihan, karena beban tanggung jawab yang berlebihan akan berdampak pada di efesiensi kinerja, pembunhan karakter dan hasil yang tidak optimal. Bersikap bijak terhadap tanggung jawab yang diberikan, terima tanggung jawab yang sesuai dengan diri, dan tolak tanggung jawab yang sekiranya terlalu membebani Anda. Terkait jumlah tanggung jawab dalam satu waktu juga perlu diperhatikan.

Setelah Anda sudah memutuskan untuk menjalankan beberapa tanggung jawab dalam waktu tertentu, maka sudah menjadi tanggung jawab Anda untuk memberikan yang terbaik terhadap tanggung jawab ini. Alokasikan waktu secara proposional tergantung tingkat kepentingan dan keterdesakan suatu tanggung jawab.

(7) Mempunyai agenda harian serta checklist catatan tugas

Tools tambahan yang bisa digunakan untuk membantu keseimbangan kuliah dan dakwah adalah dengan mempunyai catatan khusus mengenai jadwal harian dan pekanan, serta to do list , dan beri tanda mana yang sudah dikerjakan. Sehingga Anda bisa melihat dan merencanakan kapan akan menyelesaikan suatu tugas atau tanggung jawab tertentu. 


*Ditulis oleh Ridwansyah Yusuf Achmad (ketua LDK GAMAIS ITB 2007-2008)
  Sumber: http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com/2008/08/30/keseimbangan-antara-dakwah-dan-kuliah/

0 BERKAH SEBUAH KETAKWAAN

Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasihati dia dan teman -temannya : "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam diri-nya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing- masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya ber-tanya: "Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" Sambil bergetar ibunya menjawab: "Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayah-mu?" Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata: "Ayahmu itu dulu seorang pencuri?"!

Pemuda itu berkata: "Guruku memerintahkan kami -murid-muridnya- untuk bekerja seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Ibunya menyela: "Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?" Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab: "Ya, begitu kata guruku." Lalu dia pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang dia mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya' dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh). Dimulailah dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk takwa. Akhirnya, rumah tetangga itu ditingalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya: "Ini rumah anak yatim, dan Allah memperi-ngatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim". Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. "Ha, di sini", gumamnya. Pemuda tadi memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata: "Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu."

Dia mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudia dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabis-kan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing. Dia berbicara sendiri: "Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!" Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat. Isterinya bertanya: "Apa ini?" Dijawab suaminya: "Demi Allah, aku juga tidak tahu." Lalu dia menghampiri pencuri itu: "Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?" Si pencuri berkata: "Shalat dulu, baru bicara. Ayo pergilah berwudhu' lalu shalat bersama. Tuan rumah-lah yang berhak jadi imam".

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi -wallahu a'lam- bagaimana dia bisa shalat. Selesai shalat dia bertanya: "Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" Dia menjawab: "Saya ini pencuri". "Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?", tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab: "Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak", Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu dia berkata: "Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini gila?" Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal. Dan setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya. Mereka berdua dikaruniai seorang puteri. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata: "Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku." Ia menjawab: "Aku setuju." Di pagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah puterinya.

0 Pengalaman sewaktu pulang ke Merauke 2011.


Barangkali ini adalah pengalaman ku selama Aku di daerah Merauke.
Ikhwah,ketika kita masih bersama kawan – kawan seperjuangan yang masih  (mungkin semanhaj) kita akan sangat mudah dalam berdakwah. Idealisme pun bisa kita tegakkan. Namun,ketika kita telah berada di medan yang sesungguhnya(Masyarakat) maka kebanyakan yang kami lihat idealisme yang telah kita rawat / usung di kampus terkadang terkikis seiring waktu bergulir. Entah mengapa. Intinya,ikhwah. Perbanyaklah modal ilmu syar’I.Karena dialah sebaik-baiknya ilmu yang dapat menjaga kita dari fitnah yang mengalir begitu deras nya di zaman ini.Betapa tidak,begini cerita nya.

Pernah saya berkunjung kembali ke sekolah (SMA) .Pada saat itu ingin mencari seorang guru / teacher bahasa sekarang (guru Fisika). Sesampainya kami di sekolah guru (guru-guru) yang melihat saya waktu itu terkejut alias heran. Mengapa??? Karena penampilan yang saya bawa waktu itu sangat berbeda 180 derajat. Penampilan yang begitu jauh dari kesan anak muda masa kini. Dengan celana yang agak naik sedikit (NOT ISBAL) dan dibarengi jenggot yang menghiasai sedikit rupa. Terkejut ??? Itu pasti. Bagi seorang guru yang mungkin sekitar 3,5 tahun tidak pernah melihat kami jelaslah mereka heran perubahan yang terjadi. Perubahan yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya.Setelah lama berdiskusi waktu itu kurang lebih (kalau tidak salah) tanggal 27/06/2011 beliau mengajak saya ke rumah nya.

Sesampai di rumah beliau.
Kata pembuka yang beliau lontarkan adalah bagaimana caranya kamu kok bisa sampai begini (celana tidak isbal dan memelihara jenggot? Saya katakan,”Saya juga tidak tahu,tapi mungkin ini adalah petunjuk Allah”.Lalu saya bercerita tentang kuliah saya yang sebelumnya mandeg (berhenti) satu tahun. Karena waktu itu saya sempat putus kuliah dari Univ.Musamus Merauke (Dulu STTM). Salah satu penyebabnya adalah dosen yang waktu itu masih kurang dan juga kadang kala jarang masuk. Jadi,(Saya katakan ke beliau) saya putuskan untuk  berhenti dan melanjutkan ke Unhas. Dan di Unhas lah baru saya mengenal  (Agama).Pertama itu ikut tarbiyah (lalu kami jelaskan sedikit). Mentornya waktu itu senior (Kak Samsul Stath’03). Ternyata,kejadian tersebut juga beliau diskusikan dengan guru kami (guru Kimia).Kebetulan beliau juga mengenakan jilbab syar’i.Beliau (guru fisika kami) berkata (ke guru kimia kami) ternyata dia (dalam hal ini kami/penulis) telah banyak berubah. Mulai dari bawah(celana tidak isbal) hingga atas (Ada Jenggot).
Hingga beliau pun kembali menyampaikan hal tersebut kepada saya.

Saya pun  hanya tersenyum. Ya,mungkin itu hanya sebagian kecil dari pengalaman kami. Tapi,bagi saya ini adalah pengalaman yang sangat hebat dan juga barangkali berat(bagi mereka yang baru menapakinya.Mudah-mudahan tidak).Intinya,ikhwah.Guru-guru kita bahkan orang tua kita tidak akan terlalu banyak bertanya tentang akademik kita(itu yang kami rasakan.Namun bukan bereti kami menganjurkan kepada Ikhwah untuk tidak memperhatikan kuliah nya. ). Pada dasarnya mereka(Orang tua kita,guru-guru kita dan juga mungkin sejawat kita) sangat rindu bahkan berharap kepada kita (yang sekolah dalam hal ini kuliah) kita menjadi orang baik (pendefenisian baik untuk setiap orang tentu berbeda tapi defenisi terbaik adalah defenisi Al qur’an. Dan isnya Allah semua orang pun sepakat akan hal ini). Kami berpesan kepada ikhwah,ketika ada amanah yang diberikan kepada kita maka kerjakanlah dengan sepenuh hati.Jangan mengeluh.Karena mengeluh itu dari syetan dan juga merupakan pekerjaan orang kafir.

“…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Q.S.Yusuf:87).

Hadiah ini untuk ikhwah(tidak terkecuali bagi mereka yang bukan ikhwah) dan juga teman-teman yang ada di kampus.
Rasullullah bersabda:
“Dan berikanlah peringatan kepada sesama muslim.Karena sesungguhnya peringatan itu sangat bermanfaat”(tolong di koreksi kembali kalau hadist nya tidak benar). Semoga bermanfaat.
SESUNGGUHNYA PERJUANGAN INI MASIH BERLANJUT.
                                                   “…….TO BE CONTINUED……..”                          

0 Belajar dari seorang steven Gerrard


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kita bermunajat syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikanNya kepada kita.
Dan shalawat dan salam senantiasa tetap tercurah kepada Nabi Muhammad shallahu Alaihi wa sallam,kepada keluarga beliau,shahabat beliau dan kepada kita semua .Amma ba’du.

Ikhwani yang dimuliakan Allah.
Kita tahu bersama ikhwani, bahwa pada tahun 2005 tepatnya di salah satu stadium di yunani telah dilakukan kegiatan akbar yaitu final liga Champions. Ya, klub asal ibukota London, Inggris yakni Liverpool  bersua  klub Asal kota pizza ,Italia yakni AC MILAN pada laga final Liga Champion.

Ikhwani yang dimuliakan Allah.
Kita juga tahu pada awal-awal babak pertama Liverpool sulit untuk mengembangkan permainannya, sehingga tiga gol tanpa balas dibabak pertama bersarang dibawah mistar gawang Liverpool. Namun,ikhwani.Setelah dilakukan sedikit perubahan strategi di kubu Liverpool maka selang beberapa saat setelah turun minum , Liverpool pun dapat memecah kebuntuan. Lewat sundulan kepala sang kapten, Steven Gerard. Liverpool mampu mengejar sampai akhirnya gol yang tercipta sampai tiga buah,sama kuat.

Dan akhirnya,drama adu penalty pun tidak bisa dielakkan. Tentunya dengan semangat yang berbeda antara Liverpool dan AC Milan, kedua tim pun akhirnya melakukan Adu penalty. Dan singkat cerita. Akhirnya, Liverpool menang atas AC MILAN.

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Tentulah ada pelajaran besar yang dapat kita ambil dari peristiwa akbar ini.Bahwa dalam kemenangan besar ini tidak terlepas dari peranan sang Mildfielder Steven Gerarad. Ada apa dengan Steven Gerard ??? Ternyata,di sepanjang laga ketika Liverpool tertinggal 3 – 0  Gerard selalu memberikan motivasi kepada rekan-rekan untuk membuat gol balasan. Dan alhasil,liverpooll menyamakan kedudukan 3 – 3. Padahal kalau ingin dilihat dari segi permainan dari stev.Gerard maka biasa – biasa saja.

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Kalau kita teliti lebih dalam ternyata, Steven Gerrard memiliki satu kelebihan yaitu dapat memberikan motivasi dan solusi kepada rekan-rekan nya ketika Liverpool tertinggal 3 – 0 dari AC MILAN.
Sebagaimana Steven Gerard , maka seorang da’i (Mujahid kampus), ikhwani pun tentu perlu harus memiliki solusi-solusi terhadap permasalahan dakwah di lingkungannya (dalam hal ini di kampus Unhas). Terlebih lagi,ikhwan tersebut adalah seorang koordinator. Maka,fungsi dan peran seorang koordinator pun sangat sentral. Kenapa? Karena seorang koordinator ibarat induk mesin yang apabila ia mati maka fungsi dari mesin - mesin yang ada disekelilingnya pun akan mati. Olehnya,koordiator pun dituntut agar tetap “panas”(bukan marah-marah) agar bisa menularkan panas tersebut kepada orang-orang yang ada disekelilingnya.

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Perkara-perkara dakwah adalah perkara yang mulia. Kalau kita ingin melihat sedikit ke belakang,maka perkara-perkara dakwah adalah perkara yang disematkan kepada orang-orang yang dimuliakan oleh Allah,para An biya,para Khulafaurrasyidiin. Dan kalaulah kita ingin melihat siapa diri kita maka betapa tidak pantasnya kita untuk mengemban amanah dakwah ini sebab perkara Agama ini adalah perkara-perkara yang mulia.Dan ,ikhwani.Ternyata Allah memilih kita dari sekian banyak mahasiswa yang ada di unhas untuk mengemban tugas tersebut.



Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Adakah pemain bola yang ketika ia dikontrak oleh suatu klub bola maka ia akan rela untuk menjadi pemain cadangan ??? Tentulah ikhwani kita akan sepakat bahwa tidak mungkin ada hal seperti ini. Dan lain halnya ketika ada seseorang yang dikontrak dengan bayaran yang tinggi,kira – kira apa yang akan dilakukan ??? Tentulah ,ia akan mengeluarkan segenap kemampuannya untuk memberikan kontribusi positif bagi klub yang mengontraknya. Dan yang pasti ia tidak akan mungkin mau untuk menjadi pemain cadangan (penonton). Sebagaimana bola tadi ikhwan, maka seperti itu juga dengan dakwah. Ketika Allah mengontrak kita  (dengan memberikan kepahaman Agama) maka sepantasnya lah kita ingin memberikan kontribusi positif dalam perjuangan Agama ini. Dan pastinya,kita tidak ingin hanya bisa menjadi penonton ketika para ikhwan dan Akhawat bercapek-capek dan berlelah-lelah dalam melakukan kegiatan-kegiatan Agama.

Dalam surah Al Insan ayat ke 29 sampai dengan 30,Allah berkalam:

29.  Sesungguhnya (ayat-ayat) Ini adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.
30.  Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan pastilah kita yakin akan adanya balasan Allah terhadap kontribusi kita dalam perjuangan Agama ini berupa surga Allah yang kita senantiasa berharap dapat meraihnya.
Allah juga berkalam:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu".

Ikhwani yang dimuliakan Allah…
Namun,dalam perjalanan dakwah ini tentunya sangat panjang dan berliku.Olehnya,dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi dalam menapakinya.Terkadang kita akan dihadapkan dengan sikap sesama ikhwan yang barangkali sangat membuat kita jengkel ataupun akan memberikan buruk sangka kepada ikhwan tersebut. Namun,Allah menegur kita ikhwani .Allah berkalam :

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Dan Allah pun menguatkan kita dalam surah Ali Imran ayat 200

200.  Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Bayangkan Ikhwan, Allah dalam ayat ini menegaskan bahwa kita harus benar-benar bersabar dalam mengemban amanah-amanah dakwah. Ini bertanda bahwa,orang –orang yang terpilih sebagai seorang da’i harus memiliki kesabaran tingkat tinggi (tentunya berbeda dengan khayalan tingkat tinggi peterpan). Artinya apa ? memang amanah dakwah, pekerjaan – pekerjaan dakwah bukanlah perkara atau pekerjaan yang disematkan atau dialamatkan untuk sembarang orang. Melainkan,ia adalah perkara atau pekerjaan yang  tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mencicipinya. Olehnya,bergembiralah ikhwani ketika amanah-amanah dakwah datang menyapa kita. Dan berikanlah terhadap Agama ini apa yang bisa kita berikan ,dan jangan lah pernah menghitung apa yang telah kita berikan terhadap agama ini.Sebab mengapa ? Sebab,ketika Allah subhanahu wa ta ‘ala tidak pernah menghitung-hitung apa yang Dia berikan kepada kita.

Seharusnya,ikhwani.
Kita lah yang mesti mengistrospeksi diri kita, siapa sebenarnya kita. Untuk apa kita diadakan oleh Allah di muka bumi ini. Dan kemana kita akan melangkah ketika kita telah meninggalkan dunia ini.

36.  Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam.
37.  Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan bumi, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Demikian Ikhwani,
Apa yang bisa kami sampaikan.Dan kami berharap kepada Allah semoga dengan tulisan singkat ini bisa memberikan hal yang bermanfaat kepada Ikhan sekalian.
Sebagai penutup, Allah berfirman dalam surah Al ankabut(29) ayat 69 :
69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Subhanakallahumma wa bihamdika.Asyhadu Allah ilaha illa anta.Astagfiruka wa atubu ilaika.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
 

Catatan Harian Fajar Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates