Tiba sebagai duta KKN UNHAS dimana pun berada, terkhusus
untuk saya di kecamatan Baroko (Jum’at, 22/06/ 2012 jam 11 malam) tepatnya di
kantor camat, desa bubun bia adalah
sebuah kebanggaan tersendiri sebagai seorang mahasiswa yang “hampir” selesai.
Tanda petik, karena biasanya ada juga mahasiswa yang sudah KKN ternyata masih
juga belum selesai – selesai di kampus.
Saya tidak perlu untuk menyebutkan contoh. Karena ini sudah menjadi rahasia
umum.
Saya ingin berbagi. Setidaknya ini bahan sharing untuk kita
bersama. Agar ke depan banyak orang – orang yang ada disekitar kita bisa menjadi
sukses.
Saya akan mulai dengan pengalaman saya waktu ingin masuk ke
perguruan tinggi negeri. Salah satu yang terbaik di Makassar. Unhas namanya. Pilihan
saya. Waktu itu (tahun 2007) setelah saya selesai di SMA 1 KURIK. Saya masih
ingat betul, pak sigit (guru fisika SMA 1 KURIK) pernah bertanya ke saya,”
setelah kamu lulus, mau lanjut ke mana, jar?”. Hehe.. tanpa pikir panjang saya langsung
menjawab, “Saya mau lanjut ke Unhas ,pak”. Mungkin pernyataan saya ini agak
“tabu” dan “gila” kalau mau di dengar. Apalagi tahun 2007 ( Tahun dimana akses
informasi terutama internet belum juga ada. Mungkin ada,tapi lewat Hp. Kurang
maksimal). Mengingat persaingan untuk masuk universitas ternama sekelas universitas
Hasanuddin memang sulit. Bahkan mungkin sangat mustahil. Kalau boleh dikata,
hanya orang – orang “pintar (yang punya nilai bagus)” di SMA yang bisa masuk ke
Unhas. Kalau pernyataan ini (saya mau masuk Unhas) di dengar oleh teman – teman
saya waktu itu (tahun2007) , mungkin saja ada yang akan menertawai saya. Dan
mungkin juga Anda (sebagai pembaca) akan tertawa dalam hati. Kalau Anda
tertawa, berarti Anda tidak maksimal dalam mengajar (Atau mungkin saya yang
tidak memperhatikan Anda mejelaskan ketika di dalam kelas).He.he… Bahkan ,
mungkin saja ada yang akan berkata sambil terkekeh – kekeh berkata ,”ko gila ka
kawan? Pele, Susah itu men masuk Unhas”. Dan banyak lagi kata – kata
yang sejenis yang akan menyusul. Bukan maksud menceritakan kejelekan, tapi ini
yang terjadi di lapangan. Kalau ada kata – kata atau suara sumbang seperti ini,
saya sarankan untuk tutup telinga baik – baik dan segera menjauh dari sumber
suara ini.
Sebenarnya, saya juga termasuk orang gagal awalnya. Waktu itu
ada brosur pendaftaran dari UNCEN yang masuk ke sekolah (SMA 1 KURIK). Dan saya
juga memilih jurusan yang sama dengan yang saya geluti sekarang, Matematika. Jurusan
yang cukup saya benci waktu di SMA (Tapi, menjadi sumber inspirasi saya ketika
sudah ada di bangku kuliah). Namun, apa boleh dikata. Saya gagal dalam ujian
yang mengandalkan nilai raport tersebut. Hanya ada beberapa orang dari teman
saya yang lulus di UNCEN.
Setelah gagal masuk ke UNCEN,saya kembali untuk mengadu nasib
untuk masuk ke kepolisian. Sekali lagi dengan mengandalkan nilai raport, saya
hanya bisa tembus sampai ke bagian psikotes nya saja. Saya gagal . Ada juga
teman saya yang tembus di tes tersebut, tapi pas dengar ujian kelulusan SMA.Dia
tidak lulus.
Dan terpaksa masuk UNIMER. Sekitar 2 bulan saya belajar di
UNIMER ( sekarang satus nya memang sudah negeri. Namun, Kita belajar itu bukan
mengejar status, tapi kualitas. Status itu bisa di beli yang penting punya uang.
Apalagi di zaman seperti ini).
Waktu itu memang belum ada dosen yang mengajar secara tetap
di UNIMER. Karena masih mengandalkan guru – guru yang mengajar di SMA. Saya
bosan. Saya pun keluar dari UNIMER. Jelas, keputusan ini sangat berat. Terutama,
bapak saya. Wow, mendegar berita saya mau keluar dari UNIMER. Wah, bukan main
marahnya. ” Baru, kau mau kemana?”, kata bapak saya. Kata – kata ini masih saya
ingat jelas.Lalu, saya jawab. “Saya mau lanjut ke Unhas”.”Ko bisa ka ?”,
sanggahnya. “Kalau tidak dicoba, tentu belum ditahu hasilnya”, saya balik
menyanggah. Untuk yang satu ini, saya tidak berbohong. Siapa yang tidak kenal
dengan pak Mustafa? Kalau ada yang belum kenal, silahkan datang ke pasar kurik.
Dan cari beliau.
Bapak saya juga menyuruh untuk masuk saja kembali ke UNCEN.
Tapi, sekali lagi UNCEN bukan tempat yang saya ditakdirkan menimba ilmu disana.
Ya,banyak berita yang kurang bagus yang saya terima dari senior – senior di
sana. Apalagi masalah pendidikan agama, tentu itu menjadi salah satu faktor penentu. Mungkin saja pak
guru ataupun pembaca sekalian tahu bagaimana Jayapura dan sekitarnya (termasuk
juga merauke) bisa menjadi pendonor penyakit AIDS terbesar di Indonesia.
Sekitar 5 bulan rasanya ( setelah kelulusan sekolah sampai di
akhir tahun 2007) , saya mondar – mandir merauke dan tidak menghasilkan apa –
apa. Tes masuk di setiap tempat, saya gagal. Namun,ini bukan masalah.
Saya hanya bisa ber doa dan berharap kepada Allah dimana saya
akan berlabuh. Eh, Alhamdulillah. Waktu itu, ada om yang datang dari Makassar
(tepatnya di daerah Maros) ke Merauke. Tujuannya waktu itu, beliau ingin nikahkan
kakak sepupu. Singkat cerita, saya pun ke Makassar bersama beliau.
Saya masih ingat betul ,waktu itu saya tiba di Makassar
tanggal 28 Januari 2008. Tiba di kota yang mayoritas penduduknya beragama
islam, kota daeng Makassar membuat saya bersemangat. Tapi juga sedikit pusing.
Karena sudah banyak pelajaran sekolah yang saya lupa. Tapi, perjuangan baru
dimulai. Akhirnya saya pun mencari tempat bimbingan belajar untuk masuk ke
perguruan tinggi. Saya masuk ke JILC MAKASSAR.
Usut punya usut. Saya
belajar dengan teman – teman dari SMA 17 Makassar. SMA 17 Makassar merupakan
SMA unggulan, disamping SMAN 2 Tinggimoncong,Malino.Kalau bapak ibu guru mau
,kita bisa studi banding ke sana.
Proses belajar pun saya lalui di JILC. Ada MID NIGTH, UKA dan
QUIZ sebagai alat evaluasi untuk siswa - siswi JILC. Khusus untuk Mid Nigth,
ini saat yang berat memang. Tapi menantang. Bisa dibayangkan, belajar di awal
jam 10 malam dan berakhir di jam 2 pagi. Bagi mereka yang tidak terbiasa, pasti
di pagi harinya langsung”terkapar”. Saya saja ampun – ampun.Soalnya, di Merauke
tidak pernah belajar segiat ini. Apalagi
cuaca di tempat Bimbingan saya itu ber AC. Saya tidak terbiasa.
Sebenarnya, potensi
dari siswa – siswa di Makassar sama saja dengan kita yang ada di Merauke. Hanya
saja, memang mereka “sedikit” lebih giat dibanding kita di Merauke. Dari guru
mereka sendiri, memang lebih
menganjurkan ke siswa – siswa nya untuk mengambil bimbingan belajar di luar
sekolah. Dan yang saya pelajari di sini, tenaga pengajar (tentor bimbingan)
selalu mengadakan evaluasi kualitas dengan mengadakan Microteaching Proses di
internal mereka. Yaitu proses belajar – mengajar yang dilakukan oleh maksimal 5
orang saja. Modelnya sama saja dengan proses di kelas. Hanya jumlah pesertanya
yang berbeda. Yang diajar itu adalah tentor, bukan siswa. Jadi, bisa saling
menemukan kelemahan masing – masing. Sehigga kelemahan itu bisa di tutupi.
Mulai bagaimana cara memegang spidol ( kalau dulu kapur, namanya) sampai kepada
bagaimana posisi dan proses interaksi di dalam kelas serta paradigma tentang
siswa itu sendiri. Minta maaf, bukan untuk mengajari.Tapi sekadar share saja.
Sedikit saya ingin bertanya, “sekiranya kita digaji layaknya
karyawan ,ketika perusahaan tidak mencapai target. Apakah kita akan bersantai –
santai saja ?”. Tentu kita cepat mengevaluasi diri agar tidak di PHK. Jadi,
bagaimana dengan kita sebagai guru ??? Ingat,kita tidak akan pernah lolos dari
yang namanya Laporan Pertanggung Jawaban. Dunia dan Akhirat.
Setelah 5 bulan berlalu. Tepatnya di bulan enam (Juni 2008)
saya mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri. Jalur yang saya ikuti adalah
UMB (Ujian Masuk Bersama). Yang mengadakan tes UMB 2008 ada 10 universitas. Dan
UNHAS salah satunya.
Dan, setelah menunggu satu bulan pengumuman pun keluar. Saya lulus
di UNHAS jurusan Matematika. Nomor Stambuk
H 111 08 262. Perasaan senang, jelas. Karena saya telah mencatat sejarah baru
untuk SMA N 1 KURIK. Salah satu siswanya yang dulu lumayan “baik” bisa masuk
jurusan Matematika UNHAS. Senang , karena dari
4000 pendaftar hanya sekitar
2000 pendaftar yang diterima. Dan saya salah satunya.
Saya bisa menjadi seorang mahasiswa. Itulah rahasianya,
kenapa Allah (Rabb kita) menyembunyikan apa yang akan terjadi pada diri kita.
Karena, kalau langsung diberi tahu tentang perjalanan hidupnya, biasanya
manusia akan cepat mengeluh tentang apa yang akan terjadi pada dirinya
tersebut. Walaupun nyata – nyata mereka akan berhasil. Tapi, bisakah Anda
membayangkan model perjalanan saya yang dalam setahun begitu berliku dan ujung
– ujungnya saya lulus di Unhas ? Siapa sangka saya bisa lulus di Unhas ?
Saya akan bercerita tentang pengalaman saya sewaktu melakukan
KKN (Jum’at,22/06/2012). Saya ber KKN tepat di kabupaten Enrekang, Kecamatan
Baroko ,desa Benteng Alla’ Utara. Merupakan daerah perbatasan yang berbatasan
langsung dengan kabupaten Tana toraja.
Secara umum masyarakat desa benteng Alla’ utara tetap
mempertahankan tradisi desa yaitu budaya kebersamaan yang masih terasa kental.
Memang, dahulu. Kira – kira 6 tahun silam (kata pak desa,Ir Patola) masyarakat
desa Benteng Alla’ Utara juga banyak yang melakukan judi dan sabung Ayam (Waktu
itu beliau belum menjabat sebagai kepala desa). Setelah beliau menjadi kepala
desa, sedikit demi sedikit kebiasaan buruk itu pun diminimalisir. Salah satu
trik yang digunakan adalah dengan pendekatan kepada masyarakat dan memaksimalkan
potensi anak muda di desa tersebut. Anak – anak muda nya disarankan untuk
bersekolah setinggi – tingginya agar kelak mereka memiliki daya saing dan bisa membangun
desa ke depannya. Walaupun dari segi perekonomian, orang tua boleh dikata “pas
– pas an” untuk menyekolahan anak – anak mereka.
Memang,awal – awal perjuangan beliau penuh dengan intrik –
intrik panas dan tekanan dari masyarakat. Bisa dimaklumi, karena ketika beliau
mengadakan perubahan besar yang berbenturan dengan budaya di desa tersebut pada
umumnya , seakan – akan budaya orang tua menjadi sedikit teregradasi. Sampai –
sampai kata beliau, orang setempat sudah siap “baku parang”.
Beliau tidak sendiri dalam berjuang. Beliau ditemani oleh pak
Edi muchtar (saya tidak sempat bertemu dengan beliau karena pada saat di lokasi
KKN , beliau tidak sedang berada di desa). Menurut cerita beliau, pak Edi
muchtar merupakan sosok yang keras. Malahan kalau ada perkelahian, beliau yang
menawarkan parang. Itulah gunanya teman.
Pelan tapi pasti. Desa Benteng Alla’ Utara mulai terkenal
keluar. Dengan tangan dingin Ir.Patola, komoditas
utama desa ini, kopi, mulai mendapat perhatian, mulai dari Australia , jepang
dan korea. Tahun lalu (2011) ada peneliti dari Australia dan mengajarkan
bagaimana cara menjaga kualitas dan mendapatkan citarasa kopi yang khas. Khas
Enrekang. Kerja keras dan disiplin yang tinggi. Ini yang menjadi motor
penggerak masyarakat desa Benteng Alla’ utara bisa lebih baik di banding desa
yang lain dala 5 tahun terakhir ini.
Sebagai motivasi, ada beberapa kegiatan yang saya ikuti/
lakukan ketiga KKN, diantaranta:
1.
Pemateri LDKI ( Latihan Dasar Kepemimpinan
Islam).
2.
Pendamping Lomba Pidato PNPM Mandiri,Taman Baca,
Enrekang kota.
3.
Pemateri Pesantren Kilat SDN 167 Buntu Dama.
4.
Stering Committee kegiatan Nuansa Ramadhan X.
5.
Tour bersama Tim Safari Ramadhan II ke tiap –
tiap desa.
Ini
dokumentasi kegiatan saya selama KKN.
http://sex-hot-kotamobagu.blogspot.com/2015/10/cantik-dan-tidak-sombong.html
BalasHapus